Tuesday, December 4, 2012

backpacker Garut

15 November 2012

Pada dasarnya saya memang orang yang menyukai jalan-jalan. Pergi bersama teman-teman ke suatu tempat mengunjungi objek wisata atau daerah tentu sangat mengasikkan karena itu bisa menjadi cara untuk merefresh otak dari segala macam aktivitas kita sehari-hari. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya dengan teman-teman saya mengunjungi salah satu kota di Indonesia. Simak ya..

Kami selalu menganggap jalan-jalan kami sebagai  backpaker karena kami selalu mencoba untuk bisa jalan-jalan dengan uang yang seadanya dan waktu yang sangat singkat. Lebih tepatnya kami senang disebut Backpakere.

Sebenarnya Tim Backpakere kami ini sudah terbentuk tahun 2011 lalu ketika kami berangkat ke Yogyakarta. Namun karena beragam kesibukan, kami baru bisa jalan-jalan kembali setahun kemudian dan di bulan yang sama yaitu November.
Backpaker kali ini terasa lebih istimewa karena persiapan yang kami lakukan sangat singkat, kurang dari seminggu (bahkan hanya 2 hari). Teman kami yaitu Rizki (biasa dipanggil Bambing atau Bams) menemukan suatu blog yang berisi pengalaman seseorang (Putri namanya) ketika ia jalan-jalan ke Garut. Ya jalan-jalan kali ini kami memutuskan untuk mengunjungi Garut, sebuah kota di Jawa Barat tidak jauh dari Bandung. Bams mencoba membagi blog tentang Garut dengan menaruhnya di Grup Facebook HI-Kingdom. Disitu dengan jelas Putri menulis pengalamannya mengunjungi Garut., dan saya sangat tertarik membaca blog tersebut . Namun pada awalnya saya enggan untuk ikut karena kondisi kesehatan saya waktu itu kurang baik. Demam, flu, batuk tidak dapat saya hindari karena kondisi cuaca yang sedang tidak bagus.
Teman saya Bams terus memaksa saya untuk ikut karena katanya ga seru kalau jalan-jalannya tanpa saya (hehehe jadi ge-er nih). H-1 saya masih belum bisa memberi kepastian apakah saya ikut atau tidak. Pada saat itu saya hanya memberikan kepastian sebesar 70% untuk ikut. Namun setelah mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya saya memutuskan untuk ikut dengan mencoba melawan kondisi kesehatan yang kurang baik.
Pada hari H kami berkumpul di Halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kampus kami tercinta) pada siang harinya. Dari semua orang yang diajak hanya ada 7 orang termasuk saya yang memutuskan ikut. Ada Bams, Santi, Yamin, Sandi, Haifa (Ipeh), dan terakhir Al-Vurqan (Boy). Bams, Santi, Yamin, dan Sandi adalah Tim Backpakere yang tahun lalu juga ikut jalan-jalan ke Jogja. Sementara Ipeh dan Boy ceritanya adalah anggota baru. Hehehe. Saya sangat berterima kasih kepada kalian semua yang ikut kali ini terutama Bambing yang sampai harus mencari Blog tentang Garut, menghubungi kami semua untuk sekadar memastikan ikut atau tidak.

Jam 2 kami sudah sampai di sampai di Terminal Lebak Bulus dan langsung mencari Bis Primajasa Jurusan Garut. Setelah membayar Rp. 35.000 kami pun meluncur ke Garut. Kami sangat menikmati perjalanan selama di bis karena memang pemandangan selama diperjalanan terutama daerah Bandung adalah pegunungan dan bukit yang menjulang. Dan setelah memasuki wilayah Garut, pemandangan lebih bagus dan menarik dibandingkan ketika melewati Bandung. Dan setelah hampir 5 jam perjalanan Jakarta-Garut, kami tiba juga di Terminal Guntur, Garut.

Terminalnya tidak terlalu besar tetapi cukup ramai akan lalu lalang bus yang keluar masuk terminal, namun karena waktu kami sampai sudah malam, keramaian bus disana tidak terlalu terlihat hanya ada beberapa orang yang menanyakan kepada kami kemana kami akan pergi sambil menawarkan kami jurusan bis yang di tawarkan, suasana di Terminal Guntur tidak jauh beda dengan terminal yang ada di Jakarta seperti di Blok-M atau pun Terminal Senen.  Tak lama setelah sampai kami mencari penginapan Wisma LEC (tempat rekomendasi dari si Putri), setelah mencari dan tentunya tanya sana sini akhirnya kami menemukan Wisma LEC, penginapan ini merupakan kepunyaan Diknas Kota Garut. Tempatnya tidak terlalu besar, namun agak sedikit horor karena memang penerangan yang dipakai tidak terlalu banyak, hanya mungkin terlihat seperti bangunan tua.

Kami bertemu dengan Mang Tatang (Orangnya sedikit lebih pendek dari saya namun perutnya agak buncit dengan wajah khas Sunda). Setelah menanyakan harga dan fasilitas yang ada kepada Mang Tatang, kami setuju untuk menyewa satu kamar dengan tarif Rp.75.000 per kamar, dengan alasan ekonomis kami hanya menyewa satu kamar dengan 4 kasur untuk ditempati 7 orang, gila memang tetapi ternyata lebih seru dengan kami berkumpul menjadi satu. Setelah melepas lelah sesaat, dan kondisi perut yang ingin diisi kami pun memutuskan mencari makanan sebagai santap malam kami. Setelah sekian lama berjalan kami memutuskan untuk menghampiri tukang nasi goreng (Yailah jauh-jauh ke garut makannya Nasi Goreng, hahaha karena tidak tahu makanan khas Garut kami mencari seadanya makanan yang dijajakan di pinggir jalan).

Setelah selesai makan malam dan sempat mampir ke Alfamart kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Namun bukannya beristirahat kami malah bercanda tawa membahas apa yang bisa kami bahas dan kami bikin tertawa puas. Diselingi tawa tersebut kami juga merencanakan apa saja yang akan kami kerjakan dan tempat-tempat mana saja yang ingin kami kunjungi. Hingga akhirnya kami sadar waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan kami semua terlelap. Oia sedikit menceritakan suasana kamar yang kami tempati, kamarnya tidak terlalu besar namun ada 4 kasur dan ada kamar mandi didalamnya, tapi yang membuat kamarnya menjadi lebih menarik adalah bau yang dihasilkan dari kamar ini, padahal kamar mandi sudah ditutup tetapi tetap saja baunya menyengat. Ketiadaan kipas angin membuat kamar ini jadi terasa panas dengan keberadaan 7 orang. Hal ini juga yang membuat teman kami Boy tidak tidur. Oia disana juga kami bertemu backpaker yang ternyata juga berasal dari UIN jurusan Ilmu Ekonomi semester7,  mereka berjumlah 5 orang dengan 3 pria dan 2 wanita. Cukup Sudah cerita hari pertama. Lanjut cerita hari kedua.

Hari kedua kami tandai dengan bangun tepat waktu (meskipun tidur jam2 dan juga masih agak sedikit ngantuk) kami start mulai pukul 8 dan keluar dari Wisma LEC. Kami terpaksa membawa semua barang bawaan kami karena Mang Tatang tidak berani menjamin ada kamar untuk malam kedua karena kebetulan sedang ada acara dari Diknas Kota Garut di wisma tersebut. (Tapi menurut analisa saya, Mang Tatang tidak berani menjamin kami karena memang dia tidak full bekerja disitu, tetapi shift-shiftan dengan Mang-Mang yang lain).
Baru keluar dari Wisma LEC, kami sudah diserbu berbagai pertanyaan dari para kenek-kenek bis-bis yang di Terminal Guntur, dan yang paling serimg gue denger adalah “Mau Kemana?” ayuk sini naik bis ini aja. Mungkin dalam hati waktu itu gue bakal bilang “mau tau banget apa mau tau aja?”. (kata-kata yang sekarang sedang populer dimana-mana selain Ciyus? Miapah? Enelan).
Rencana Hari kedua kami (mungkin kami anggap hari pertama karena hari sebelumnya kami tiba malam hari dan belum kemana-mana selain makan nasi goreng tentunya) mengunjungi Telaga Sampieuren (yang katanya Ikon Garut dan gw rasa itu cuma akal-akalan montir biar kita tertarik kesana aja hehehe). Kami mencari angkot yang akan membawa kami dan banyak orang yang menawari kami untuk mencarter saja karena jika naik angkot murni akan makan waktu yang lama. Gilanya harga yang mereka tawarkan juga ga masuk diakal. Masa harganya 200rb untuk sekali jalan. palingan juga kalau kita naik angkot ga pake carter buat ber7 ya Cuma 100rb aja, itu juga udh pp. 
Setelah melalui negosiasi yang alot, kami sepakat untuk membayar 60rb untuk perginya dan tentunya 60rb lagi untuk pulangnya. Hampir 45 menit kami berada di angkot dan disuguhi pemandangan eksotis dari Garut, kami tiba di Telaga Sampieureun. Belum sempat menikmati pemandangann didalam kami dikejutkan dengan seoarang Satpam yang menahan kami dan menanyakan kemana kami akan pergi, ya kami bilang kami mau masuk kedalam mau menikmati pemandangan didalam, namun ternyata yang namanya Telaga Sampieureun adalah semacam resort yang bisa dipesan untuk menginap disana, dan tempat tersebut bukan merupakan tempat umum yang bisa dikunjungi Backapekere macam kita-kita orang. Dan setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari itu satpam, kami pun mengurungkan niat masuk kedalam. Kami pun akhirnya berdiskusi untuk berembuk mau kemana kita kalau ke tempat ini ga boleh, dan seteleh berembuk cukup lama ditambah saran dari si supir angkot, kami memutuskan menuju Darajat Pass, tetapi kai harus menambah uang carterannya yang tadinya 120rb pp menjadi 200rb, namun setelah nego kembali, kami sepakat membayar 175rb.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Darajat Pass karena memang wilayah di Garut tidak ada yang macet (beda banget sama di Jakarta), Pemandangan di Garut terutama Darajat Pass memang luar biasa, begitu eksotis dan sekilas tampak seperti Puncak Pass tetapi karena masih minimnya rumah-rumah yang dibangun membuat tempat ini layak dikunjungi oleh siapapun yang berkunjung ke Garut. Kami behenti tepat yang namanya Darajat Pass, tempatnya seperti tempat-tempat wisata di Puncak, ada resort dan ada kolam renang umum yang lumayan besar dan pastinya lumayan dingin jika kita mau masuk ke dalam kolam tersebut. Harga tiket masuk ke kolam renang tersebut 15rb dan 10rb untuk wisata outbond yang ada di bawah tempat ini. 
Perkiraan kami tempat wisata untuk outbond itu ramai, ternyata kami salah besar karena memang tempat-tempat outbond yang ada tidak ada penjaganya. Permainan semacam Flying Fox iti dibiarkan begitu saja, kalah tenar sama kolam renang yang sangat ramai. Pada akhirnya kami menyadari tempat ini memang sudah tidak bertuan lagi dan sangat sepi.  Kami memutuskan untuk santai sejenak menikmati pemandangan yang sangat luar biasa, dengan menggelar tiker yang dibawa sama Boy, kami sekadar duduk, ngemil, mendengarkan lagu dan bercanda tawa, tak lupa untuk berfoto untuk  sekadar membuat teman-teman kami iri terutama si Ari Rampog (yang katanya ga mau ikut gara-gara mau istirahat tapi pas ditaggin foto-fotonya dia ngiri sendiri).

Tidak banyak yang kami lakukan disana selain yang sudah disebutkan diatas, setelah solat dan makan siang (oia yang cowo-cowo solat Jum’at karena memang hari itu Hari Jum’at, dan sorry bukan makan siang karena hanya menikmati pop mie yang dijajakan diwarung tempat kami melepas rehat).
Kondisi Darajat Pass semakin sore semakin mencekam (maksudnya dingin) sampai-sampai saya harus memakai sarung tangan dan jaket yang saya bawa karena saking kedinginan. Ditambah dengan kondisi awan tebal dan angin kencang pertanda akan turun hujan. Jam2 kami memtuskan untuk pergi dari Darajat Pass, dan benar saja belum sempat keluar dari sekitaran Darajat Pass hujan turun dengan lebatnya sampai-sampai jarak yang dapat terlihat sangat terbatas saking derasnya.

Jam 3 kami tiba di pusat kota (kata supir angkotnyanya sih gitu) dan harus terpisah dengan supir angkot yang nemenin kami dari pagi, dan tentunya setelah membayar 175rb kami akhirnya benar-benar harus terpisah (Cakra Khan) dari supir angkot tersebut (lebay ah). 
Tiba di pusat kota, kami memutuskan untuk makan siang di suatu rumah makan (tampak luar tuh kaya warteg). Setelah selesai makan siang, kami memutuskan untuk mengunjungi Chocodot , suatu jenis cemilan baru (ga baru-baru amat sih kita aja kali yang baru denger).

Chocodot ini memadukan antara Dodol (sebagai makanan khas garut tentunya) dengan Cokelat. Entah dodolnya yang dilapisi Cokelat, atau Cokelatnya yang dilapisi Dodol. Ga penting juga sih, yang jelas ketika kita gigit sekali, rasanya benar-benar terasa nikmat sampai gigitan terakhir. Ada satu jenis Chocodot yang menurut saya aneh, si Bams kebetulan yang nemuinnya. Cokelat rasa Chili, bukan rasa manis yang kita dapatkan tapi rasa pedas yang kita rasakan ketika kita makan satu coklat ini, ga terlalu pedas sih emang tapi bisa buat yang memakannya jadi keringat dingin (itu yang saya rasakan waktu coba memakannya). Kalau menurut gw Chocodot ini mirip ama Joger yang ada di Bali, jadi Chocodot ini menampilkan variasi-variasi yang menarik dengan mengikuti perkembangan zaman (maksudnya pemakaian kata-kata untuk Cokelat tersebut. Ya bisa dibilang modern dikit lah, masa ada Cokelat rasa Anti Galau, Cokelat rasa Kasih Sayang, Cokelat Tolak Miskin, Cokelat Sesuatu Banget (kaya Syahrini aja).

Puas muter-muter di Distronya Chocodot, kami pun beranjak mengitari pusat kota. Sepanjang jalan banyak pedagang-pedagang yang menjajakan makanannya dari mulai Cimol, Cilok, Basreng, Siomay, Jagung Kraft dan beragam jajanan khas Garut lainnya yang kebanyakan memakai mecin (katanya sih kebanyakan mecin bisa jadi bego hehehe). Hujan sempat turun membuat kami memutuskan berhenti di suatu jajanan yang menawarkan minuman (semacam jus dan milk shake). 
Puas setelah mengitari pusat kota dan waktu yang sudah sore, akhirnya kami memutuskan kembali ke Wisma LEC (Mang Tatang memberi tahu kami bahwa ada kamar untuk malam ini). Kami naik angkot yang membawa kami menuju Terminal Guntur. Saya menyangka tujuan akhir dari angkot ini adalah Terminal Guntur namun ternyata tujuan akhir angkot ini bukan di Terminal Guntur sehingga setelah kami melewati terminal itu baru saya menyadari kami sudah melewatinya sehingga kami harus berjalan lebih jauh, teman-teman mempersalahkan Yamin dan Ipeh karena kebetulan mereka yang duduk didepan disamping supir angkot. (entah kebetulan atau tidak kami mengikuti kesalahan si Putri hehehe). 

Tiba diwisma LEC ternyata bukan Mang Tatang yang menyambut kami dan entah siapa karena kami tidak menanyakan namanya. Kamar yang kami sewa pada malam kedua ini lebih besar karena harganya juga sedikit lebih mahal daripada malam pertama. Ukuran kamarnya lebih luas tetapi hanya ada dua kasur, namun ada beberapa fasilitas seperti Tv dan kipas angin, tentunya dengan kamar mandi didalam dan tidak bau pula. Kamar ini disewakan dengan tarif Rp.125rb per malam. Kejadian malam hari pada malam kedua tidak jauh beda dengan malam pertama, bersanda gurau tertawa membahas apa yang bisa dibahas. Padahal sudah direncanakan mau tidur cepat, tetapi tetap saja sekitar jam1 kami baru bisa memejamkan mata.

Hari terakhir kami di Garut bukannya semangat malah tambah malas, mungkin karena kami semua kelelahan di hari sebelumnya. Rencana kami dihari terakhir di Garut adalah mengunjungi Situ Cangkuang yang ada di Leles sebelum akhirnya kami benar-benar pulang meninggalkan Garut (aahh ga mau hehehe). 
Kami baru start jam 11 meninggalkan Wisma LEC. Namun perjalanan kami selanjutnya tidak ditemani oleh Sandi karena dia mendapat kabar (ga tau ya dari siapa) bahwa dia sudah harus sampai di pamulang pada sore harinya sehingga dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Kami pun berpisah dengan Sandi, dia berjalan menuju Bis Primajasa yang akan membawanya kembali ke Lebak Bulus, sedangkan kami harus mencari Angkot No 10 yang akan membawa kami ke Alun-Alun Leles. Tarif angkot dari Terminal Guntur-Alun Alun Leles adalah Rp.4rb dan perjalanan ditempuh selama setengah jam. 
  
Sampai di Alun-Alun Leles, kami harus menaiki Delman untuk sampai ke Situs Cangkuang (jalan kaki juga bisa sih tapi dijamin langsung gempor). Setelah nego dengan penarik delmannya kami menyewa dua delman dengan tarif satu delmannya yaitu Rp.12rb. Sudah lama sekali rasanya kami semua tidak naik delman karena memang di Jakarta sudah tidak ada delman karena sudah dilarang oleh pemprov. Sekitar 15 menit kami sudah sampai di depan gerbang Situs Cangkuang. Harga tiket masuk untuk masuk Situs Cangkuang adalah Rp.4rb dengan menumpang rakit karena Situs Cangkuang ada diseberang danau. Sekitar 10 menit kami sampai di Situs Cangkuang.

Ternyata bukan hanya Candi yang ada disana, tetapi juga Rumah Adat Kampung Pulo, terdapat 6 rumah panggung beserta satu masjid yang ada ditengah, agak naik ke atas barulah Candi Cangkuang terlihat dengan Makam Mbah Dalem Arif Muhammad disampingnya, ada juga rumah tua yang berisi informasi mengenai Candi Cangkuang dan juga Rumah Adat Kampung Pulo. Puas melihat Situs Cangkuang dan tak lupa berfoto bersama, kami pun meninggalkan Situs Cangkuang dengan rakit yang sama dan untuk kembali ke Alun-Alun Leles dengan Delman, namun karena hanya ada satu delman, terpaksa kami berenam naik dengan berimpit-impitan.

Bams yang badannya besar dan Santi yang kakinya panjang membut saya dan Yamin sangat tersiksa (lebih tersiksa Kudanya deh karena harus narik 7 orang sama supir delmannya). Sampai di Alun-Alun Leles, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang disekitar Alun-Alun Leles. 
Kami menemukan rumah makan tidak terlalu besar, tetapi lumayan lengkap lah. Ada Bakso, Mie ayam, Mie Goreng, Nasi Goreng, dll. Namun karena si Ibu hanya sendiri melayani kami jadinya kami harus bersabar menunggu satu-satu. Setelah selesai makan dan tak lupa Solat, kami pun sudah siap dipinggir jalan menunggu Bis Primajasa yang akan membawa kami kembali ke Lebak Bulus. Tak sampai lama akhirnya Bis Primajasa lewat dan kami semua langsung naik kedalamnya. Kami tiba di Lebak Bulus jam 9 kurang. Dan kami pun harus berpisah pulang kerumah masing-masing. Bams dan Santi naik angkot ke Ciledug sedangkan Saya, Boy, Ipeh, dan Yamin naik angkot ke arah Ciputat.

Sungguh perjalanan yang sangat menarik buat saya pribadi karena bisa berlibur bersama teman-teman. Perencanaan yang sangat singkat dan bawa uang yang cuma seadanya, pasti menjadi hal yang tak terlupakan dalam hidup ini. Terima kasih buat Allah SWT karena tanpa kuasanya kita semua tidak akan bisa melakukan perjalanan ini (terutama saya yang walaupun sedikit sakit masih bisa ikut). Terima kasih kepada kedua orang tua kami masing-masing yang sudah mengizinkan anaknya (kecuali Ipeh yang ga bilang sama mamahnya hahaha). Terima kasih buat Bams, Yamin, Santi, Ipeh, Boy dan Sandi. Terutama Bams yang ga lelah dan henti-hentinya ngajakin gw, sampe cari-cari tau tentang Garut dari blognya si Putri, nah terima kasih juga buat si Putri karena dari pengalaman yang ditulis di blognya membuat kami tahu akan pesona Garut (pada akhirnya selama perjalanan si Putri juga yang kami bahas terus-terusan hahaha). Sekadar berbagi buat kalian yang masih muda jangan sia-siakan hidup kalian yang masih muda dengan hal-hal negatif, isi dengan hal-hal positif seperti yang kami lakukan. Jalan-jalan mengelilingi Indonesia bisa jadi solusi untuk sekadar merefresh otak atau mengisi hidup ini lebih baik, terimakasih :)






(saduran dari email yang dikirim Muh. Yamin, sedikit ada perubahan nama)

Wednesday, November 14, 2012

backpacker Yogyakarta


Sebenernya cerita ini ada di blog gue sebelumnya, cuma karena blog gue yang itu udah hilang gatau kemana passwordnya jadi gue sadur ulang ke blog yang sekarang. Buat share aja sih..

11 November 2011
Pengalaman pertama ngegembel bareng temen temen bacpackere (istilahnya bams) ke Jogja kali ini bener bener GILA! Sebelumnya emang gue pribadi sering jalan ke berbagai kota "seorang diri" tapi kali ini bareng temen temen dan asli, SERU BANGET gak pake boong.

daaan disini gue pribadi mau bilang TERIMAKASIH buat
  1. Allah Swt yang melindungi disetiap langkah kita
  2. Tim backpacKERE (Rais, Bams, Shantie, Imam, Shandy, Yamin dan Ari)
  3. Tiketing dan pusat informasi stasiun Senen yang bikin kita deg deg an menanggung malu klo ampe kita gak berangkat ke Jogja
  4. Pedagang dan pengamen kreta yang bikin kita jatuh miskin (tiada kesan tanpa kehadiran kalian.. hmmm)
  5. Mas2 yang mencurigakan yang sok2 akrab ma kita.. mamake n anaknya yang tmn nya mas2 (katanya sih kuku nya berdarah kejepit pintu kreta)--->> yaelah kuku doang
  6. Makasih buat pombensin Kroya yang udh numpangin kita mandi dan ngecas hp
  7. Bis yang ugal2an bkin kita serasa naik wahana baru yang ga ada di dufan
  8. Masjid Agung Yogyakarta, kita jadi bisa mandi dan wangi kembali (tetep kece walau kere)
  9. Angkringan yang menjual aneka nasi kucing tempat kita makan siang di sore hari
  10.  Masjid tempat kita nginep (makasihhh ya kita jadi lebih religius) Allhamdulillah ya sesuatu
  11. Makasih buat saudaranya rais yang minjemin kita mobil dan rais nyetirnya gila-gilaan kaya di sirkuit sentul
  12. Pemandangan yang menakjubkan Kaliuarang di kaki Gunung Berapi. Imam nostalgia disini
  13. Malioboro dan teman teman nya Bams yang baik banget nganterin kita ke rumah Lele
  14. Lele, Icha dan tante yang udah nampung kita buat tidur semalem. Makasih banyak ya.. kalian baiiiiiiiik bgt!!!
  15. Perjalanan ke Trans Yogya. Sumpah jauuuuh bgt kita jalannya dan makasih mas2 penjaga tiket yang ngasih kita minum
  16. Makasih buat stasiun jogja walaupun kita dapet tiketnya ke Bandung dan makasih juga buat rais yang udah luar biasa nyampe tepat waktu padahal dia dari Boyolali nganter saudaranya. Alhamdulillah tim backpacKERE dalam formasi lengkap
  17. Makasih untuk keluarganya Tita temennya Yamin yang udah ngijinin kita nginep di Bandung semalem..haha nyokapnya tita gokil abisss!!
  18. Makasih pak supir losbak yang udh ngomprengin kita ke terminal bis buat balik ke Jakarta. Kerasa bgt seru nya ngegembel!! Haha
  19. dan alhamdulillah sampai dengan selamat kembali lagi ke jakarta “terminal lebak bulus”
  20. 1 lagi, buat mobil pick up yang rela kita tumpangin sampe legoso. thankyouuuuuu so mucccchhhhh


























Masih banyak foto lainnyaaaaaaaa..
ah seru banget deh pokoknya, gak nyesel! budget 3 kota gak nyampe 300ribu, bener!
bakal bikin kangen masa masa kayak gini, dan ini awal dari backpacKERE kita.. selanjutnya ditunggu aja :D




LOVE

Saturday, October 27, 2012

aku sudah belajar

aku sudah belajar bahwa..
tidak selamanya hidup itu indah
kadang Tuhan mengijinkan aku melalui lembah derita,
tetapi aku tahu, bahwa Dia tak pernah meninggalkanku.
sebab itu aku selalu bergembira

aku sudah belajar bahwa..
tak semua yang kuharapkan menjadi kenyataan,
kadang Tuhan membelokkan rencanaku,
tapi aku yakin, itu lebih baik dari rencanaku
sebab itu aku selalu bergembira

aku sudah belajar bahwa..
pencobaan itu datang kedalam hidupku,
dan aku tidak mungkin berkata "tidak Tuhan"
karena aku tau, itu tidak melampaui kekuatanku,
sebab itu aku selalu bergembira

aku sudah belajar bahwa..
tidak ada kejadian yang harus disesali ataupun ditangisi
karena semua rancangan-Nya indah bagiku
maka aku bersyukur dan bergembira dalam segala perkara
karena bergembira adalah resep jitu yang aku dapatkan dari-Nya :)

Friday, September 21, 2012

dan aku harus memilih :')

dalam hidup, kita selalu punya pilihan. memilih untuk tertawa, atau memilih untuk menangis. semua pilihan itu ada ditangan kita. tidak! itu menurut orang. menurutku, hati yang memiliki peran paling penting untuk menentukan bagaimana pilihan seseorang dalam hidup.
seperti saat ini, aku memilih untuk bahagia ditengah rasa sakit saat mencintaimu.
ini lucu. kita sangat jauh berbeda, kamu dengan prinsipmu dan aku dengan perasaanku. kamu dengan logikamu, dan aku dengan hatiku. kamu dengan cuekmu, dan aku dengan perhatianku.
aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin hatiku memilih kebahagiaan yang mungkin lebih banyak membutuhkan air mata? benar. bahagia dan sedih itu sudah satu paket, kita tidak mungkin mendapatkan 'pelangi' yang indah tanpa melewati 'hujan'.
cinta ini terlalu sakit kalau hanya aku sendiri yang merasakan. berkali-kali kuyakinkan dirimu, kita bisa melewati semuanya, berkali-kali pula kau keraskan hatimu dan menganggap semua usaha yang (akan) kita lakukan mungkin berakhir sia-sia. kamu kehilangan keberanianmu saat berhadapan dengan cinta. itu pilihanmu, bertahan dengan keadaan yang membuatmu nyaman, sementara aku meradang dengan luka menganga di hatiku.
tidak bisakah kau sedikit mendukung apa yang telah kusematkan dalam doaku saat berbincang dengan-Nya? saat namamu menjadi nama paling sering terucap di bibir yang sudah basah karena air mata. berharap Tuhan akan membuatmu mengerti, aku memlihmu, dan aku sangat yakin pilihanku akan membuatku bahagia.
tapi tidak dengan kamu, kamu tetap tidak memilih. kamu memilih, untuk tidak memilih. terlalu beratkah permintaanku untuk kau tengok sedikit saja?
malam ini, aku juga mulai menyerah, menyerah pada rasa sakit yang mungkin aku ciptakan sendiri, menyerah pada keadaan yang sudah terlalu menyakitkan. haruskah hatiku memilih untuk berpisah?
haruskah aku berhenti berusaha dan membiarkan semua berlalu?
haruskah aku melepaskan semua harapan tinggi yang sudah kubangun bersamamu?
mungkin jawabannya adalah 'iya'. kamu tetap kamu, sekeras apapun aku berusaha, kalau kamu tak pernah peduli, itu sama saja seperti aku menyia-nyiakan hidup.
aku masih tetap memilihmu,
ya! memilih untuk menempatkanmu pada masa laluku..

Saturday, September 15, 2012

...

dalam segala kelemahan,
aku masih berani mempertaruhkan hatiku
iyaa. memang benar yang kupunya hanya satu hati
dan hati itu, kini kupertaruhkan sebagai permainanmu

tidak bisakah kau sedikit menoleh?
lihat aku yang tak mampu lagi menangis
lihat aku yang selalu kau "tampar" dengan sikapmu
lihat aku yang masih saja bertahan
dengan luka yang kau gores di hatiku..

entah apa aku yang terlalu takut pergi darimu
atau kamu,
yang takut jika aku mengenal kebebasan

kamu ajari aku semuanya
menangis, tertawa
boleh aku minta diajarkan satu hal lagi?
ajarkan aku untuk lupa akan kamu
untuk lupa akan cintaku
untuk lupa akan semua hal yang akan mengingatkanmu padaku
atau, biarkan saja aku lupa tentang kamu
sederhana bukan?
:)

aku (masih) merindukanmu

kepada kamu,
jika saja aku Tuhan, akan kuberikan seluruh isi dunia ini hanya padamu, tapi tidak dengan wanita
aku ingin menjadi satu-satunya wanita dalam hidupmu
aku ingin menjadi yang terutama dalam hidupmu.
buatku,
kamu adalah godaan terbesar didunia ini
ada beberapa lelaki yang memaksa menggantikan posisimu di hatiku semenjak kamu pergi, tapi mereka kesulitan mengambil hatiku.
ya, tepat! karena hatiku ada pada kamu
dan kamu, sampai saat ini belum juga mengembalikannya
kumohon jangan egois, berhentilah menyiksaku
aku sangat payah dalam hal melupakanmu
aku merasa sangat bodoh harus membohongi perasaanku dan pura-pura tidak membutuhkanmu
kamu pernah merasa merindukan seseorang sampai dadamu terasa begitu sesak dan paru-parumu kesulitan menangkap oksigen yang berada disekitarmu saat itu? apa kamu juga pernah, membanjiri kamarmu oleh air mata dan kenangan manis yang terasa pahit ketika diingat?
ya, aku melakukannya sekarang.
mengingat setiap kenangan yang semakin jelas terlihat di bulir kecil air mataku yang meluncur bebas di pipi
omong kosong macam apa lagi ini?
aku terlalu lemah untuk menolak pelukanmu
apa yang bisa kulakukan hanya berandai-andai menjadi Tuhan, yang dengan gampangnya menjangkaumu lewat tangan
jarak bukan lagi hal yang harus kutakutkan
orang sekarang menyebutnya galau ya? bukan.. aku bukan galau, aku hanya merasakan sakit ketika mengenangmu
iya, merindukan dan mengenangmu menjadi dua hal yang tak ingin kulakukan lagi. tapi.. ah, ketika aku tak merindukanmu, kamu malah hadir dimimpiku.
aku terlalu merindukanmu
iya, aku (masih) merindukanmu :'(

Sunday, September 9, 2012

menunggumu

aku merelakan diri mencintaimu
meski itu berarti aku melukai hatiku
dengan tabah aku belajar mencintai kamu

semua orang mampu mencintaimu
tapi hanya aku.. hanya aku yang masih mau mencintaimu
bahkan saat hatimu mencintai wanita lain

aku rela di tiap ingatanku hanya ada nama dan wajahmu yang membekas
aku mencintaimu, meski hanya dapat memiliki sosokmu didalam pikiranku

sisa rindu berubah menjadi titik-titik air mata
aku meluputkan semua pengertian cinta

tak pernah ada waktu yang tepat untuk mencintaimu
karna bagiku waktu adalah jahat
saat serpihannya yang tajam, perlahan-lahan mulai merobek jahitan-jahitan pertemuan kita
lalu kita berpisah

aku masih mencintaimu dalam diam
dan aku masih menunggu waktu yang tepat
dimana mungkin cintaku yang akan berbicara padamu..

yaa, aku menunggu
bukan hanya untuk menyampaikan beberapa kata-kata yang mungkin telah membusuk didalam hatiku
aku menantikan kamu kembali
lalu langkah kita akan beriringan lagi

aku menunggu saat pelukanmu bukan lagi hal yang harus kutunggu
saat mataku bebas menjelajahi wajahmu
dan mulai belajar membaca setia gerak gerikmu

lalu, apa yang kamu tunggu?
tak inginkah kamu membuatku berhenti menunggu?
tak inginkah kamu membahagiakan telingaku saat mendengar langkah kedatanganmu?
kembalilah..
aku menunggu
aku menunggu saat dimana aku tak perlu lagi menunggu kamu :)

pernah..

aku pernah berjanji pada kamu
aku takkan pernah melupakanmu

aku pernah memelukmu
saat kamu sedang bahagia dan saat air mata tak mampu kau bendung dari sepasang matamu
tahukah kamu? betapa aku bahagia
lenganku, menjadi lengan paling beruntung karena bisa memelukmu
menenggelammu dalam pelukku
lalu bahuku basah oleh tetes air matamu yang semakin menjadi-jadi

aku pernah dengan bebas mengecup keningmu
saat kamu tertidur, saat kamu menyetir
atau saat keningmu berkerut ketika berpikir keras
aku suka mengecup keningmu
itu bukti tanda sayang paling dalam

aku pernah melewati sebuah jalan dengan kamu
jejak-jejak langkah kita, membekas diaspal jalan
waktu itu, hanya ada kamu dan aku
jari-jari kita saling bertaut
dengan senyum yang hanya bisa kita artikan berdua

dan aku pernah merindukanmu
kemarin, hari ini, dan mungkin besok..

7 September 2012

Akhirnya aku dan kamu bertemu lagi setelah hampir 9 bulan tak bertemu, setelah kamu memintaku untuk datang kerumah dan meramaikan suasana dirumah. Tepat saat itu aku baru saja kembali dari rumah dan sempat-sempatnya kita bertengkar kecil sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menginjakkan kaki dirumahmu. Macet yang membuatmu setia menungguku diparkiran sevel sore itu, mengingatkanku kejadian 10 bulan yang lalu ketika kamu menungguku berjam-jam didepan kosan namun aku ketiduran. Saat aku masuk kedalam mobilmu, terasa sangat seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Dan kamu masih sempat memanggilku "yank" entah itu tanpa kamu sadari atau tidak. Suasana malam itu, terasa amat sangat berbeda dibanding suasana setahun yang lalu. Keisengan kamu yang dari dulu memang iseng membuat suasana saat itu terasa lebih akrab dan intim. Macetnya Ibukota membuat kita bersenda gurau sedikit membahas masa lalu yang benar-benar tidak ada keemosian sedikitpun. Aku dan kamu bisa membicarakannya dengan selingan tawa yang akhirnya membuatmu memegang erat tanganku, ya.. seperti dulu. Kamu menatapku dan mengelus rambutku, menyentuh hidungku dan mencium lenganku kadang-kadang. Kamu terasa sangat berbeda malam itu dan seperti tidak ada kepalsuan. Kamu mulai bercerita tentang mama dan keadaan dirumah, serta kamu juga bercerita alasan kamu memutuskan hubungan dengan pacarmu saat itu. Setelah itu lagi lagi kamu memegang erat tanganku lebih lama, kamu menyatukan tangan kita dan sedikit membuatku bingung serta berpikir cukup lama.

Sampai dirumah, pertama kali kamu langsung memanggil keponakan kamu, anak dari abang kedua kamu kepadaku untuk salim. Lalu kamu membawaku kerumah dan memperkenalkan aku dengan papamu. Kuserahkan sedikit oleh-oleh yang kubawa dari rumah kepada papa. Sedikit gugup memang, tapi aku berusaha membawa suasana agar terlihat akrab. Sempat menyesal saat itu teringat ceritamu tentang mama yang menanyakan "mana finaa.." ah sedih mengingat itu. Sampai mama meninggalpun aku tak sempat datang kerumahmu.
Tak lama tasya keluar dan kami saling menyapa, saat itu kamu memintaku untuk ke dapur membantu tasya. Namun aku bingung apa aku harus menurutimu atau tidak, aku bilang aku tamu tapi kamu malah bertanya balik "emang kamu tamu?" sambil menarik tanganku dan menggelitikku. Pertanyaan tasya "udah lama gak keliatan, kemana aja?" membuatku sedikit berpikir, banyak berubah dia sepertinya. Saat aku kembali ke ruang tamu kamu mengikutiku dan memelukku dari belakang sambil mencium rambutku.

Malam itu entah mengapa banyak tawa diantara aku dan kamu, tertawa geli mungkin ya. Mengingat apa saja kebodohan yang terjadi setahun yang lalu, namun cara kita menyampaikannya malam itu sederhana sekali, becandaan yang keluar dari mulutku membuatmu tertawa lepas dan menggelitikku. Sempat terasa sedikit tegang ketika ada bbm masuk yang isinya menanyakan aku sedang dimana. Kamupun membacanya dan raut mukamu berubah. Entah kamu cemburu atau apa, namun kamu mendiamkanku beberapa menit. Aku mulai bercerita siapa dia dan kamupun hanya menjawab singkat tidak suka. Namun setelah aku singgung mengenai hubungan kamu dengan wanita yang terbilang tiba-tiba itu, dan aku bercerita bagaimana rasanya jadi aku saat itu.. kamupun mulai menarikku dan mencium keningku. Butuh kedewasaan mungkin disini, dan saling mengerti.

Setelah lama berbincang di ruang tamu, aku dan kamupun pergi keluar cari makan. Kamu mengajakku berkeliling daerah situ, tempat tongkrongan kamu dan teringat lagi kejadian setahun yang lalu, disaat kamu juga mengajakku melewati jalan itu. Akupun memelukmu dari belakang, dan menggodamu dengan menggelitik paha serta perutmu. Baru kali itu kamu membawaku pergi dengan menggunakan motor, terasa lebih dekat dan sangat dekat. Banyak hal yang kamu ceritakan padaku, dan memang seperti pacaran lagi kita saat itu. Saat aku membuka hpku lagi, kamupun menanyakan laki-laki yang bbm aku. Aku memperlihatkan orangnya kepadamu dan kamupun diam. Akupun membalas bbmnya sekedarnya, karna aku takut menyakiti hatinya. Balasannya pun juga kamu tau dan kamu boleh sedikit menang diatas dia malam itu. Cerita demi cerita lagi lagi kita saling bercerita, dan tawapun juga ikut menyertai.

Sampai dirumah, tasya sudah menunggumu dan ingin mengajakmu keluar sebentar menemui seseorang. Namun karna ada aku, tasya akhirnya pergi dengan temanmu yang saat itu ada didalam kamar kosan. Kitapun menuju kesana dan bertemu dengan abang keduamu. Tasyapun ternyata juga ikut, aku masuk kekosan dan saat kamu sedang berbicara dengan tasya abang dan temanmu itu aku langsung menuju meja komputer. Aku online sebentar dan tak lama kemudian kamu masuk, kamu memelukku dari belakang dan kamu menciumku lembut. Malam itu kita berbincang cukup lama dan apapun itu kamu perlihatkan padaku. Rasanya ingin memelukmu terus saat itu, ingin ada disampingmu terus. Ah malam begitu lama hingga akhirnya kamu mencari tanganku untuk memelukmu, kamu pegang terus tanganku dan tak membiarkan tanganku melepas pelukan. Kamupun juga mencium pipi dan keningku dengan lembut.

Saat kamu bilang akan menjemput wahyu (pacar tasya) pukul 01.00 akupun memintamu untuk mengantarku pulang pukul 11.00. Nggak mungkin kan aku menunggu wahyu juga, mau pulang jam berapa aku -..-

Turun dari kosan kitapun bertemu teman-temanmu, abangmu dan juga tasya. Sedikit malu sih dicengin sama mereka, sempet terdengar abangmu bilang "tidur aja disini"
Perjalanan pulang kamu bilang badan kamu pegel dan akupun memijat pundak leher serta kepalamu. Macetnya tol membuat kita bercengkrama lagi dan meributkan hp. Ada aja yang diributin waktu mau balik, sempet-sempetnya. Ributnya kita saat itu ya sambil bercanda, bukan ribut yang seperti dulu, penuh emosi.

Sampai dikosanku, aku pamit turun dan salim cium tanganmu. Setahun yang lalu saat seperti itu aku merasakan tak ingin berpisah, namun malam itu aku langsung turun dan meninggalkanmu. Aku membiarkanmu keluar kosan tanpa melihatmu lagi. Entah mengapa sakit rasanya hati ini, jalan menuju kamarku aku merasakan bahagia namun bercampur duka.

Teringat semua kejadian saat itu, setahun yang lalu, saat kamu membuatku kecewa dan terluka. Saat kamu tak pernah mengerti perasaanku, saat kita bertengkar penuh emosi, saat kamu membiarkanku terluka ketika mengetahui kamu dengan wanita lain. Bahkan ketika menangis aku juga harus menghapus air mataku sendiri, setidak pedulikah hatimu pada tetes air mataku yang berjatuhan (hanya demi) untuk kamu? Ah! Sakitnya terasa sangat sakit ketika aku sudah berasa dikosan, malam setelah kamu mengantarku, aku masih saja terbayang kenangan masa lalu. Aku mulai mengingat bagaimana aku bisa move dari kamu dengan penuh usaha dan bantuan dari teman-temanku. Namun kenyataannya sekarang aku dekat lagi denganmu, dan aku takut terluka lagi.

Akhir-akhir ini memang kita intens bbman, kamu sering bbm aku dan akupun juga sebenernya merasa heran. Kamu mulai perhatian lagi denganku seperti saat awal kita pdkt dulu, malah lebih indah yang sekarang. Kamu cemburu saat tau aku dekat dengan pria lain..













Sunday, September 2, 2012

Renungkan!

disaat kamu ingin melepaskan seseorang, ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya. disaat kamu mulai tidak mencintainya, ingatlah saat pertama kamu jatuh cinta padanya. disaat kamu mulai bosan dengannya, ingatlah selalu saat terindah bersamanya. disaat kamu ingin menduakannya, bayangkan jika dia selalu setia. disaat kamu  ingin membohonginya, ingatlah disaat dia jujur padamu. cobalah, maka kamu akan merasakan artinya dia untukmu

:')

aku dengar sebuah pengakuan
aku fikirkan, ternyata menyakitkan

aku hanya diam

diam bukan tenang
diam bukan sabar
diam bukan mengalah
tapi, diam aku menangis


aku pejamkan mata

aku pejamkan lebih erat, semua gelap bahkan tak terlihat
perasaan ku gelap hatiku tak seterang lampu
hatiku tak secerah matahari


aku buka mata

aku tak mampu berbicara apapun
aku bisu
aku hanya mampu menangis
menangis dalam hati

perkenankanlah aku..

Perkenankanlah aku mencintaimu seperti ini

Tanpa kekecewaan yang pasti
Meski tanpa kepastian yang pasti

Harapan yang setiap kali dikecewakan kenyataan
Biarlah dibayar oleh harapan-harapan baru yang menjanjikan

Perkenankanlah aku mencintaimu semampuku
Menyebut-nyebut namamu dalam kesendirian pun lumayan
Berdiri didepan pintumu tanpa harapan dan kau membukakannya pun sudah terasa nyaman
Sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku pun cukup memuaskan

Perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku