Pada dasarnya saya memang orang yang menyukai jalan-jalan. Pergi bersama teman-teman ke suatu tempat mengunjungi objek wisata atau daerah tentu sangat mengasikkan karena itu bisa menjadi cara untuk merefresh otak dari segala macam aktivitas kita sehari-hari. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya dengan teman-teman saya mengunjungi salah satu kota di Indonesia. Simak ya..
Kami selalu menganggap
jalan-jalan kami sebagai backpaker
karena kami selalu mencoba untuk bisa jalan-jalan dengan uang yang seadanya dan
waktu yang sangat singkat. Lebih tepatnya kami senang disebut Backpakere.
Sebenarnya Tim Backpakere
kami ini sudah terbentuk tahun 2011 lalu ketika kami berangkat ke Yogyakarta.
Namun karena beragam kesibukan, kami baru bisa jalan-jalan kembali setahun
kemudian dan di bulan yang sama yaitu November.
Backpaker kali ini terasa
lebih istimewa karena persiapan yang kami lakukan sangat singkat, kurang dari
seminggu (bahkan hanya 2 hari). Teman kami yaitu Rizki (biasa dipanggil Bambing
atau Bams) menemukan suatu blog yang berisi pengalaman seseorang (Putri
namanya) ketika ia jalan-jalan ke Garut. Ya jalan-jalan kali ini kami
memutuskan untuk mengunjungi Garut, sebuah kota di Jawa Barat tidak jauh dari
Bandung. Bams mencoba membagi blog tentang Garut dengan menaruhnya di Grup
Facebook HI-Kingdom. Disitu dengan jelas Putri menulis pengalamannya
mengunjungi Garut., dan saya sangat tertarik membaca blog tersebut . Namun pada
awalnya saya enggan untuk ikut karena kondisi kesehatan saya waktu itu kurang
baik. Demam, flu, batuk tidak dapat saya hindari karena kondisi cuaca yang
sedang tidak bagus.
Teman saya Bams terus
memaksa saya untuk ikut karena katanya ga seru kalau jalan-jalannya tanpa saya
(hehehe jadi ge-er nih). H-1 saya masih belum bisa memberi kepastian apakah
saya ikut atau tidak. Pada saat itu saya hanya memberikan kepastian sebesar 70%
untuk ikut. Namun setelah mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya saya
memutuskan untuk ikut dengan mencoba melawan kondisi kesehatan yang kurang
baik.
Pada hari H kami berkumpul
di Halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kampus kami tercinta) pada siang
harinya. Dari semua orang yang diajak hanya ada 7 orang termasuk saya yang
memutuskan ikut. Ada Bams, Santi, Yamin, Sandi, Haifa (Ipeh), dan terakhir
Al-Vurqan (Boy). Bams, Santi, Yamin, dan Sandi adalah Tim Backpakere yang tahun
lalu juga ikut jalan-jalan ke Jogja. Sementara Ipeh dan Boy ceritanya adalah
anggota baru. Hehehe. Saya sangat berterima kasih kepada kalian semua yang ikut
kali ini terutama Bambing yang sampai harus mencari Blog tentang Garut,
menghubungi kami semua untuk sekadar memastikan ikut atau tidak.
Jam 2 kami sudah sampai di
sampai di Terminal Lebak Bulus dan langsung mencari Bis Primajasa Jurusan
Garut. Setelah membayar Rp. 35.000 kami pun meluncur ke Garut. Kami sangat
menikmati perjalanan selama di bis karena memang pemandangan selama
diperjalanan terutama daerah Bandung adalah pegunungan dan bukit yang
menjulang. Dan setelah memasuki wilayah Garut, pemandangan lebih bagus dan
menarik dibandingkan ketika melewati Bandung. Dan setelah hampir 5 jam
perjalanan Jakarta-Garut, kami tiba juga di Terminal Guntur, Garut.
Terminalnya tidak terlalu
besar tetapi cukup ramai akan lalu lalang bus yang keluar masuk terminal, namun
karena waktu kami sampai sudah malam, keramaian bus disana tidak terlalu
terlihat hanya ada beberapa orang yang menanyakan kepada kami kemana kami akan
pergi sambil menawarkan kami jurusan bis yang di tawarkan, suasana di Terminal
Guntur tidak jauh beda dengan terminal yang ada di Jakarta seperti di Blok-M
atau pun Terminal Senen. Tak lama
setelah sampai kami mencari penginapan Wisma LEC (tempat rekomendasi dari si
Putri), setelah mencari dan tentunya tanya sana sini akhirnya kami menemukan
Wisma LEC, penginapan ini merupakan kepunyaan Diknas Kota Garut. Tempatnya
tidak terlalu besar, namun agak sedikit horor karena memang penerangan yang
dipakai tidak terlalu banyak, hanya mungkin terlihat seperti bangunan tua.
Kami bertemu dengan Mang
Tatang (Orangnya sedikit lebih pendek dari saya namun perutnya agak buncit
dengan wajah khas Sunda). Setelah menanyakan harga dan fasilitas yang ada
kepada Mang Tatang, kami setuju untuk menyewa satu kamar dengan tarif Rp.75.000
per kamar, dengan alasan ekonomis kami hanya menyewa satu kamar dengan 4 kasur
untuk ditempati 7 orang, gila memang tetapi ternyata lebih seru dengan kami
berkumpul menjadi satu. Setelah melepas lelah sesaat, dan kondisi perut yang
ingin diisi kami pun memutuskan mencari makanan sebagai santap malam kami.
Setelah sekian lama berjalan kami memutuskan untuk menghampiri tukang nasi
goreng (Yailah jauh-jauh ke garut makannya Nasi Goreng, hahaha karena tidak
tahu makanan khas Garut kami mencari seadanya makanan yang dijajakan di pinggir
jalan).
Setelah selesai makan
malam dan sempat mampir ke Alfamart kami pun kembali ke penginapan untuk
beristirahat. Namun bukannya beristirahat kami malah bercanda tawa membahas apa
yang bisa kami bahas dan kami bikin tertawa puas. Diselingi tawa tersebut kami
juga merencanakan apa saja yang akan kami kerjakan dan tempat-tempat mana saja
yang ingin kami kunjungi. Hingga akhirnya kami sadar waktu sudah menunjukkan
pukul 2 pagi dan kami semua terlelap. Oia sedikit menceritakan suasana kamar
yang kami tempati, kamarnya tidak terlalu besar namun ada 4 kasur dan ada kamar
mandi didalamnya, tapi yang membuat kamarnya menjadi lebih menarik adalah bau
yang dihasilkan dari kamar ini, padahal kamar mandi sudah ditutup tetapi tetap
saja baunya menyengat. Ketiadaan kipas angin membuat kamar ini jadi terasa
panas dengan keberadaan 7 orang. Hal ini juga yang membuat teman kami Boy tidak
tidur. Oia disana juga kami bertemu backpaker yang ternyata juga berasal dari
UIN jurusan Ilmu Ekonomi semester7,
mereka berjumlah 5 orang dengan 3 pria dan 2 wanita. Cukup Sudah cerita
hari pertama. Lanjut cerita hari kedua.
Hari kedua kami tandai
dengan bangun tepat waktu (meskipun tidur jam2 dan juga masih agak sedikit
ngantuk) kami start mulai pukul 8 dan keluar dari Wisma LEC. Kami terpaksa
membawa semua barang bawaan kami karena Mang Tatang tidak berani menjamin ada
kamar untuk malam kedua karena kebetulan sedang ada acara dari Diknas Kota
Garut di wisma tersebut. (Tapi menurut analisa saya, Mang Tatang tidak berani
menjamin kami karena memang dia tidak full bekerja disitu, tetapi shift-shiftan
dengan Mang-Mang yang lain).
Baru keluar dari Wisma
LEC, kami sudah diserbu berbagai pertanyaan dari para kenek-kenek bis-bis yang
di Terminal Guntur, dan yang paling serimg gue denger adalah “Mau Kemana?” ayuk
sini naik bis ini aja. Mungkin dalam hati waktu itu gue bakal bilang “mau tau
banget apa mau tau aja?”. (kata-kata yang sekarang sedang populer dimana-mana
selain Ciyus? Miapah? Enelan).
Rencana Hari kedua kami
(mungkin kami anggap hari pertama karena hari sebelumnya kami tiba malam hari
dan belum kemana-mana selain makan nasi goreng tentunya) mengunjungi Telaga
Sampieuren (yang katanya Ikon Garut dan gw rasa itu cuma akal-akalan montir
biar kita tertarik kesana aja hehehe). Kami mencari angkot yang akan membawa
kami dan banyak orang yang menawari kami untuk mencarter saja karena jika naik
angkot murni akan makan waktu yang lama. Gilanya harga yang mereka tawarkan
juga ga masuk diakal. Masa harganya 200rb untuk sekali jalan. palingan juga
kalau kita naik angkot ga pake carter buat ber7 ya Cuma 100rb aja, itu juga udh
pp.
Setelah melalui negosiasi
yang alot, kami sepakat untuk membayar 60rb untuk perginya dan tentunya 60rb
lagi untuk pulangnya. Hampir 45 menit kami berada di angkot dan disuguhi
pemandangan eksotis dari Garut, kami tiba di Telaga Sampieureun. Belum sempat
menikmati pemandangann didalam kami dikejutkan dengan seoarang Satpam yang
menahan kami dan menanyakan kemana kami akan pergi, ya kami bilang kami mau
masuk kedalam mau menikmati pemandangan didalam, namun ternyata yang namanya
Telaga Sampieureun adalah semacam resort yang bisa dipesan untuk menginap
disana, dan tempat tersebut bukan merupakan tempat umum yang bisa dikunjungi
Backapekere macam kita-kita orang. Dan setelah mendengar penjelasan panjang
lebar dari itu satpam, kami pun mengurungkan niat masuk kedalam. Kami pun
akhirnya berdiskusi untuk berembuk mau kemana kita kalau ke tempat ini ga
boleh, dan seteleh berembuk cukup lama ditambah saran dari si supir angkot,
kami memutuskan menuju Darajat Pass, tetapi kai harus menambah uang carterannya
yang tadinya 120rb pp menjadi 200rb, namun setelah nego kembali, kami sepakat
membayar 175rb.
Tidak butuh waktu lama
untuk sampai di Darajat Pass karena memang wilayah di Garut tidak ada yang
macet (beda banget sama di Jakarta), Pemandangan di Garut terutama Darajat Pass
memang luar biasa, begitu eksotis dan sekilas tampak seperti Puncak Pass tetapi
karena masih minimnya rumah-rumah yang dibangun membuat tempat ini layak
dikunjungi oleh siapapun yang berkunjung ke Garut. Kami behenti tepat yang
namanya Darajat Pass, tempatnya seperti tempat-tempat wisata di Puncak, ada
resort dan ada kolam renang umum yang lumayan besar dan pastinya lumayan dingin
jika kita mau masuk ke dalam kolam tersebut. Harga tiket masuk ke kolam renang
tersebut 15rb dan 10rb untuk wisata outbond yang ada di bawah tempat ini.
Perkiraan kami tempat
wisata untuk outbond itu ramai, ternyata kami salah besar karena memang
tempat-tempat outbond yang ada tidak ada penjaganya. Permainan semacam Flying
Fox iti dibiarkan begitu saja, kalah tenar sama kolam renang yang sangat ramai.
Pada akhirnya kami menyadari tempat ini memang sudah tidak bertuan lagi dan sangat
sepi. Kami memutuskan untuk santai
sejenak menikmati pemandangan yang sangat luar biasa, dengan menggelar tiker
yang dibawa sama Boy, kami sekadar duduk, ngemil, mendengarkan lagu dan
bercanda tawa, tak lupa untuk berfoto untuk
sekadar membuat teman-teman kami iri terutama si Ari Rampog (yang
katanya ga mau ikut gara-gara mau istirahat tapi pas ditaggin foto-fotonya dia
ngiri sendiri).
Tidak banyak yang kami
lakukan disana selain yang sudah disebutkan diatas, setelah solat dan makan
siang (oia yang cowo-cowo solat Jum’at karena memang hari itu Hari Jum’at, dan
sorry bukan makan siang karena hanya menikmati pop mie yang dijajakan diwarung
tempat kami melepas rehat).
Kondisi Darajat Pass semakin
sore semakin mencekam (maksudnya dingin) sampai-sampai saya harus memakai
sarung tangan dan jaket yang saya bawa karena saking kedinginan. Ditambah
dengan kondisi awan tebal dan angin kencang pertanda akan turun hujan. Jam2
kami memtuskan untuk pergi dari Darajat Pass, dan benar saja belum sempat
keluar dari sekitaran Darajat Pass hujan turun dengan lebatnya sampai-sampai
jarak yang dapat terlihat sangat terbatas saking derasnya.
Jam 3 kami tiba di pusat kota (kata supir angkotnyanya sih
gitu) dan harus terpisah dengan supir angkot yang nemenin kami dari pagi, dan
tentunya setelah membayar 175rb kami akhirnya benar-benar harus terpisah (Cakra
Khan) dari supir angkot tersebut (lebay ah).
Tiba di pusat kota, kami
memutuskan untuk makan siang di suatu rumah makan (tampak luar tuh kaya
warteg). Setelah selesai makan siang, kami memutuskan untuk
mengunjungi Chocodot , suatu jenis cemilan baru (ga baru-baru amat sih kita aja
kali yang baru denger).
Chocodot ini memadukan
antara Dodol (sebagai makanan khas garut tentunya) dengan Cokelat. Entah
dodolnya yang dilapisi Cokelat, atau Cokelatnya yang dilapisi Dodol. Ga penting
juga sih, yang jelas ketika kita gigit sekali, rasanya benar-benar terasa
nikmat sampai gigitan terakhir. Ada satu jenis Chocodot yang menurut saya aneh,
si Bams kebetulan yang nemuinnya. Cokelat rasa Chili, bukan rasa manis yang
kita dapatkan tapi rasa pedas yang kita rasakan ketika kita makan satu coklat
ini, ga terlalu pedas sih emang tapi bisa buat yang memakannya jadi keringat
dingin (itu yang saya rasakan waktu coba memakannya). Kalau menurut gw Chocodot
ini mirip ama Joger yang ada di Bali, jadi Chocodot ini menampilkan
variasi-variasi yang menarik dengan mengikuti perkembangan zaman (maksudnya
pemakaian kata-kata untuk Cokelat tersebut. Ya bisa dibilang modern dikit lah,
masa ada Cokelat rasa Anti Galau, Cokelat rasa Kasih Sayang, Cokelat Tolak
Miskin, Cokelat Sesuatu Banget (kaya Syahrini aja).
Puas muter-muter di
Distronya Chocodot, kami pun beranjak mengitari pusat kota. Sepanjang jalan
banyak pedagang-pedagang yang menjajakan makanannya dari mulai Cimol, Cilok,
Basreng, Siomay, Jagung Kraft dan beragam jajanan khas Garut lainnya yang
kebanyakan memakai mecin (katanya sih kebanyakan mecin bisa jadi bego hehehe).
Hujan sempat turun membuat kami memutuskan berhenti di suatu jajanan yang
menawarkan minuman (semacam jus dan milk shake).
Puas setelah mengitari
pusat kota dan waktu yang sudah sore, akhirnya kami memutuskan kembali ke Wisma
LEC (Mang Tatang memberi tahu kami bahwa ada kamar untuk malam ini). Kami naik
angkot yang membawa kami menuju Terminal Guntur. Saya menyangka tujuan akhir
dari angkot ini adalah Terminal Guntur namun ternyata tujuan akhir angkot ini
bukan di Terminal Guntur sehingga setelah kami melewati terminal itu baru saya
menyadari kami sudah melewatinya sehingga kami harus berjalan lebih jauh,
teman-teman mempersalahkan Yamin dan Ipeh karena kebetulan mereka yang duduk
didepan disamping supir angkot. (entah kebetulan atau tidak kami mengikuti
kesalahan si Putri hehehe).
Tiba diwisma LEC ternyata
bukan Mang Tatang yang menyambut kami dan entah siapa karena kami tidak menanyakan
namanya. Kamar yang kami sewa pada malam kedua ini lebih besar karena harganya
juga sedikit lebih mahal daripada malam pertama. Ukuran kamarnya lebih luas
tetapi hanya ada dua kasur, namun ada beberapa fasilitas seperti Tv dan kipas
angin, tentunya dengan kamar mandi didalam dan tidak bau pula. Kamar ini
disewakan dengan tarif Rp.125rb per malam. Kejadian malam hari pada malam kedua
tidak jauh beda dengan malam pertama, bersanda gurau tertawa membahas apa yang
bisa dibahas. Padahal sudah direncanakan mau tidur cepat, tetapi tetap saja
sekitar jam1 kami baru bisa memejamkan mata.
Hari terakhir kami di
Garut bukannya semangat malah tambah malas, mungkin karena kami semua kelelahan
di hari sebelumnya. Rencana kami dihari terakhir di Garut adalah mengunjungi
Situ Cangkuang yang ada di Leles sebelum akhirnya kami benar-benar pulang
meninggalkan Garut (aahh ga mau hehehe).
Kami baru start jam 11
meninggalkan Wisma LEC. Namun perjalanan kami selanjutnya tidak ditemani oleh
Sandi karena dia mendapat kabar (ga tau ya dari siapa) bahwa dia sudah harus
sampai di pamulang pada sore harinya sehingga dia memutuskan untuk pulang
terlebih dahulu. Kami pun berpisah dengan Sandi, dia berjalan menuju Bis
Primajasa yang akan membawanya kembali ke Lebak Bulus, sedangkan kami harus
mencari Angkot No 10 yang akan membawa kami ke Alun-Alun Leles. Tarif angkot
dari Terminal Guntur-Alun Alun Leles adalah Rp.4rb dan perjalanan ditempuh
selama setengah jam.
Sampai di Alun-Alun Leles,
kami harus menaiki Delman untuk sampai ke Situs Cangkuang (jalan kaki juga bisa
sih tapi dijamin langsung gempor). Setelah nego dengan penarik delmannya kami
menyewa dua delman dengan tarif satu delmannya yaitu Rp.12rb. Sudah lama sekali
rasanya kami semua tidak naik delman karena memang di Jakarta sudah tidak ada
delman karena sudah dilarang oleh pemprov. Sekitar 15 menit kami sudah sampai
di depan gerbang Situs Cangkuang. Harga tiket masuk untuk masuk Situs Cangkuang
adalah Rp.4rb dengan menumpang rakit karena Situs Cangkuang ada diseberang
danau. Sekitar 10 menit kami sampai di Situs Cangkuang.
Ternyata bukan hanya Candi
yang ada disana, tetapi juga Rumah Adat Kampung Pulo, terdapat 6 rumah panggung
beserta satu masjid yang ada ditengah, agak naik ke atas barulah Candi
Cangkuang terlihat dengan Makam Mbah Dalem Arif Muhammad disampingnya, ada juga
rumah tua yang berisi informasi mengenai Candi Cangkuang dan juga Rumah Adat
Kampung Pulo. Puas melihat Situs Cangkuang dan tak lupa berfoto bersama, kami
pun meninggalkan Situs Cangkuang dengan rakit yang sama dan untuk kembali ke
Alun-Alun Leles dengan Delman, namun karena hanya ada satu delman, terpaksa
kami berenam naik dengan berimpit-impitan.
Bams yang badannya besar
dan Santi yang kakinya panjang membut saya dan Yamin sangat tersiksa (lebih
tersiksa Kudanya deh karena harus narik 7 orang sama supir delmannya). Sampai
di Alun-Alun Leles, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang disekitar
Alun-Alun Leles.
Kami menemukan rumah makan
tidak terlalu besar, tetapi lumayan lengkap lah. Ada Bakso, Mie ayam, Mie
Goreng, Nasi Goreng, dll. Namun karena si Ibu hanya sendiri melayani kami
jadinya kami harus bersabar menunggu satu-satu. Setelah selesai makan dan tak
lupa Solat, kami pun sudah siap dipinggir jalan menunggu Bis Primajasa yang
akan membawa kami kembali ke Lebak Bulus. Tak sampai lama akhirnya Bis
Primajasa lewat dan kami semua langsung naik kedalamnya. Kami tiba di Lebak
Bulus jam 9 kurang. Dan kami pun harus berpisah pulang kerumah masing-masing.
Bams dan Santi naik angkot ke Ciledug sedangkan Saya, Boy, Ipeh, dan Yamin naik
angkot ke arah Ciputat.
Sungguh perjalanan yang
sangat menarik buat saya pribadi karena bisa berlibur bersama teman-teman.
Perencanaan yang sangat singkat dan bawa uang yang cuma seadanya, pasti menjadi
hal yang tak terlupakan dalam hidup ini. Terima kasih buat Allah SWT karena
tanpa kuasanya kita semua tidak akan bisa melakukan perjalanan ini (terutama
saya yang walaupun sedikit sakit masih bisa ikut). Terima kasih kepada kedua
orang tua kami masing-masing yang sudah mengizinkan anaknya (kecuali Ipeh yang
ga bilang sama mamahnya hahaha). Terima kasih buat Bams, Yamin, Santi, Ipeh, Boy
dan Sandi. Terutama Bams yang ga lelah dan henti-hentinya ngajakin gw, sampe
cari-cari tau tentang Garut dari blognya si Putri, nah terima kasih juga buat
si Putri karena dari pengalaman yang ditulis di blognya membuat kami tahu akan
pesona Garut (pada akhirnya selama perjalanan si Putri juga yang kami bahas
terus-terusan hahaha). Sekadar berbagi buat kalian yang masih muda jangan
sia-siakan hidup kalian yang masih muda dengan hal-hal negatif, isi dengan
hal-hal positif seperti yang kami lakukan. Jalan-jalan mengelilingi Indonesia
bisa jadi solusi untuk sekadar merefresh otak atau mengisi hidup ini lebih baik, terimakasih :)
(saduran dari email yang dikirim Muh. Yamin, sedikit ada perubahan nama)
