Tuesday, December 4, 2012

backpacker Garut

15 November 2012

Pada dasarnya saya memang orang yang menyukai jalan-jalan. Pergi bersama teman-teman ke suatu tempat mengunjungi objek wisata atau daerah tentu sangat mengasikkan karena itu bisa menjadi cara untuk merefresh otak dari segala macam aktivitas kita sehari-hari. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya dengan teman-teman saya mengunjungi salah satu kota di Indonesia. Simak ya..

Kami selalu menganggap jalan-jalan kami sebagai  backpaker karena kami selalu mencoba untuk bisa jalan-jalan dengan uang yang seadanya dan waktu yang sangat singkat. Lebih tepatnya kami senang disebut Backpakere.

Sebenarnya Tim Backpakere kami ini sudah terbentuk tahun 2011 lalu ketika kami berangkat ke Yogyakarta. Namun karena beragam kesibukan, kami baru bisa jalan-jalan kembali setahun kemudian dan di bulan yang sama yaitu November.
Backpaker kali ini terasa lebih istimewa karena persiapan yang kami lakukan sangat singkat, kurang dari seminggu (bahkan hanya 2 hari). Teman kami yaitu Rizki (biasa dipanggil Bambing atau Bams) menemukan suatu blog yang berisi pengalaman seseorang (Putri namanya) ketika ia jalan-jalan ke Garut. Ya jalan-jalan kali ini kami memutuskan untuk mengunjungi Garut, sebuah kota di Jawa Barat tidak jauh dari Bandung. Bams mencoba membagi blog tentang Garut dengan menaruhnya di Grup Facebook HI-Kingdom. Disitu dengan jelas Putri menulis pengalamannya mengunjungi Garut., dan saya sangat tertarik membaca blog tersebut . Namun pada awalnya saya enggan untuk ikut karena kondisi kesehatan saya waktu itu kurang baik. Demam, flu, batuk tidak dapat saya hindari karena kondisi cuaca yang sedang tidak bagus.
Teman saya Bams terus memaksa saya untuk ikut karena katanya ga seru kalau jalan-jalannya tanpa saya (hehehe jadi ge-er nih). H-1 saya masih belum bisa memberi kepastian apakah saya ikut atau tidak. Pada saat itu saya hanya memberikan kepastian sebesar 70% untuk ikut. Namun setelah mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya saya memutuskan untuk ikut dengan mencoba melawan kondisi kesehatan yang kurang baik.
Pada hari H kami berkumpul di Halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kampus kami tercinta) pada siang harinya. Dari semua orang yang diajak hanya ada 7 orang termasuk saya yang memutuskan ikut. Ada Bams, Santi, Yamin, Sandi, Haifa (Ipeh), dan terakhir Al-Vurqan (Boy). Bams, Santi, Yamin, dan Sandi adalah Tim Backpakere yang tahun lalu juga ikut jalan-jalan ke Jogja. Sementara Ipeh dan Boy ceritanya adalah anggota baru. Hehehe. Saya sangat berterima kasih kepada kalian semua yang ikut kali ini terutama Bambing yang sampai harus mencari Blog tentang Garut, menghubungi kami semua untuk sekadar memastikan ikut atau tidak.

Jam 2 kami sudah sampai di sampai di Terminal Lebak Bulus dan langsung mencari Bis Primajasa Jurusan Garut. Setelah membayar Rp. 35.000 kami pun meluncur ke Garut. Kami sangat menikmati perjalanan selama di bis karena memang pemandangan selama diperjalanan terutama daerah Bandung adalah pegunungan dan bukit yang menjulang. Dan setelah memasuki wilayah Garut, pemandangan lebih bagus dan menarik dibandingkan ketika melewati Bandung. Dan setelah hampir 5 jam perjalanan Jakarta-Garut, kami tiba juga di Terminal Guntur, Garut.

Terminalnya tidak terlalu besar tetapi cukup ramai akan lalu lalang bus yang keluar masuk terminal, namun karena waktu kami sampai sudah malam, keramaian bus disana tidak terlalu terlihat hanya ada beberapa orang yang menanyakan kepada kami kemana kami akan pergi sambil menawarkan kami jurusan bis yang di tawarkan, suasana di Terminal Guntur tidak jauh beda dengan terminal yang ada di Jakarta seperti di Blok-M atau pun Terminal Senen.  Tak lama setelah sampai kami mencari penginapan Wisma LEC (tempat rekomendasi dari si Putri), setelah mencari dan tentunya tanya sana sini akhirnya kami menemukan Wisma LEC, penginapan ini merupakan kepunyaan Diknas Kota Garut. Tempatnya tidak terlalu besar, namun agak sedikit horor karena memang penerangan yang dipakai tidak terlalu banyak, hanya mungkin terlihat seperti bangunan tua.

Kami bertemu dengan Mang Tatang (Orangnya sedikit lebih pendek dari saya namun perutnya agak buncit dengan wajah khas Sunda). Setelah menanyakan harga dan fasilitas yang ada kepada Mang Tatang, kami setuju untuk menyewa satu kamar dengan tarif Rp.75.000 per kamar, dengan alasan ekonomis kami hanya menyewa satu kamar dengan 4 kasur untuk ditempati 7 orang, gila memang tetapi ternyata lebih seru dengan kami berkumpul menjadi satu. Setelah melepas lelah sesaat, dan kondisi perut yang ingin diisi kami pun memutuskan mencari makanan sebagai santap malam kami. Setelah sekian lama berjalan kami memutuskan untuk menghampiri tukang nasi goreng (Yailah jauh-jauh ke garut makannya Nasi Goreng, hahaha karena tidak tahu makanan khas Garut kami mencari seadanya makanan yang dijajakan di pinggir jalan).

Setelah selesai makan malam dan sempat mampir ke Alfamart kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Namun bukannya beristirahat kami malah bercanda tawa membahas apa yang bisa kami bahas dan kami bikin tertawa puas. Diselingi tawa tersebut kami juga merencanakan apa saja yang akan kami kerjakan dan tempat-tempat mana saja yang ingin kami kunjungi. Hingga akhirnya kami sadar waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan kami semua terlelap. Oia sedikit menceritakan suasana kamar yang kami tempati, kamarnya tidak terlalu besar namun ada 4 kasur dan ada kamar mandi didalamnya, tapi yang membuat kamarnya menjadi lebih menarik adalah bau yang dihasilkan dari kamar ini, padahal kamar mandi sudah ditutup tetapi tetap saja baunya menyengat. Ketiadaan kipas angin membuat kamar ini jadi terasa panas dengan keberadaan 7 orang. Hal ini juga yang membuat teman kami Boy tidak tidur. Oia disana juga kami bertemu backpaker yang ternyata juga berasal dari UIN jurusan Ilmu Ekonomi semester7,  mereka berjumlah 5 orang dengan 3 pria dan 2 wanita. Cukup Sudah cerita hari pertama. Lanjut cerita hari kedua.

Hari kedua kami tandai dengan bangun tepat waktu (meskipun tidur jam2 dan juga masih agak sedikit ngantuk) kami start mulai pukul 8 dan keluar dari Wisma LEC. Kami terpaksa membawa semua barang bawaan kami karena Mang Tatang tidak berani menjamin ada kamar untuk malam kedua karena kebetulan sedang ada acara dari Diknas Kota Garut di wisma tersebut. (Tapi menurut analisa saya, Mang Tatang tidak berani menjamin kami karena memang dia tidak full bekerja disitu, tetapi shift-shiftan dengan Mang-Mang yang lain).
Baru keluar dari Wisma LEC, kami sudah diserbu berbagai pertanyaan dari para kenek-kenek bis-bis yang di Terminal Guntur, dan yang paling serimg gue denger adalah “Mau Kemana?” ayuk sini naik bis ini aja. Mungkin dalam hati waktu itu gue bakal bilang “mau tau banget apa mau tau aja?”. (kata-kata yang sekarang sedang populer dimana-mana selain Ciyus? Miapah? Enelan).
Rencana Hari kedua kami (mungkin kami anggap hari pertama karena hari sebelumnya kami tiba malam hari dan belum kemana-mana selain makan nasi goreng tentunya) mengunjungi Telaga Sampieuren (yang katanya Ikon Garut dan gw rasa itu cuma akal-akalan montir biar kita tertarik kesana aja hehehe). Kami mencari angkot yang akan membawa kami dan banyak orang yang menawari kami untuk mencarter saja karena jika naik angkot murni akan makan waktu yang lama. Gilanya harga yang mereka tawarkan juga ga masuk diakal. Masa harganya 200rb untuk sekali jalan. palingan juga kalau kita naik angkot ga pake carter buat ber7 ya Cuma 100rb aja, itu juga udh pp. 
Setelah melalui negosiasi yang alot, kami sepakat untuk membayar 60rb untuk perginya dan tentunya 60rb lagi untuk pulangnya. Hampir 45 menit kami berada di angkot dan disuguhi pemandangan eksotis dari Garut, kami tiba di Telaga Sampieureun. Belum sempat menikmati pemandangann didalam kami dikejutkan dengan seoarang Satpam yang menahan kami dan menanyakan kemana kami akan pergi, ya kami bilang kami mau masuk kedalam mau menikmati pemandangan didalam, namun ternyata yang namanya Telaga Sampieureun adalah semacam resort yang bisa dipesan untuk menginap disana, dan tempat tersebut bukan merupakan tempat umum yang bisa dikunjungi Backapekere macam kita-kita orang. Dan setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari itu satpam, kami pun mengurungkan niat masuk kedalam. Kami pun akhirnya berdiskusi untuk berembuk mau kemana kita kalau ke tempat ini ga boleh, dan seteleh berembuk cukup lama ditambah saran dari si supir angkot, kami memutuskan menuju Darajat Pass, tetapi kai harus menambah uang carterannya yang tadinya 120rb pp menjadi 200rb, namun setelah nego kembali, kami sepakat membayar 175rb.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Darajat Pass karena memang wilayah di Garut tidak ada yang macet (beda banget sama di Jakarta), Pemandangan di Garut terutama Darajat Pass memang luar biasa, begitu eksotis dan sekilas tampak seperti Puncak Pass tetapi karena masih minimnya rumah-rumah yang dibangun membuat tempat ini layak dikunjungi oleh siapapun yang berkunjung ke Garut. Kami behenti tepat yang namanya Darajat Pass, tempatnya seperti tempat-tempat wisata di Puncak, ada resort dan ada kolam renang umum yang lumayan besar dan pastinya lumayan dingin jika kita mau masuk ke dalam kolam tersebut. Harga tiket masuk ke kolam renang tersebut 15rb dan 10rb untuk wisata outbond yang ada di bawah tempat ini. 
Perkiraan kami tempat wisata untuk outbond itu ramai, ternyata kami salah besar karena memang tempat-tempat outbond yang ada tidak ada penjaganya. Permainan semacam Flying Fox iti dibiarkan begitu saja, kalah tenar sama kolam renang yang sangat ramai. Pada akhirnya kami menyadari tempat ini memang sudah tidak bertuan lagi dan sangat sepi.  Kami memutuskan untuk santai sejenak menikmati pemandangan yang sangat luar biasa, dengan menggelar tiker yang dibawa sama Boy, kami sekadar duduk, ngemil, mendengarkan lagu dan bercanda tawa, tak lupa untuk berfoto untuk  sekadar membuat teman-teman kami iri terutama si Ari Rampog (yang katanya ga mau ikut gara-gara mau istirahat tapi pas ditaggin foto-fotonya dia ngiri sendiri).

Tidak banyak yang kami lakukan disana selain yang sudah disebutkan diatas, setelah solat dan makan siang (oia yang cowo-cowo solat Jum’at karena memang hari itu Hari Jum’at, dan sorry bukan makan siang karena hanya menikmati pop mie yang dijajakan diwarung tempat kami melepas rehat).
Kondisi Darajat Pass semakin sore semakin mencekam (maksudnya dingin) sampai-sampai saya harus memakai sarung tangan dan jaket yang saya bawa karena saking kedinginan. Ditambah dengan kondisi awan tebal dan angin kencang pertanda akan turun hujan. Jam2 kami memtuskan untuk pergi dari Darajat Pass, dan benar saja belum sempat keluar dari sekitaran Darajat Pass hujan turun dengan lebatnya sampai-sampai jarak yang dapat terlihat sangat terbatas saking derasnya.

Jam 3 kami tiba di pusat kota (kata supir angkotnyanya sih gitu) dan harus terpisah dengan supir angkot yang nemenin kami dari pagi, dan tentunya setelah membayar 175rb kami akhirnya benar-benar harus terpisah (Cakra Khan) dari supir angkot tersebut (lebay ah). 
Tiba di pusat kota, kami memutuskan untuk makan siang di suatu rumah makan (tampak luar tuh kaya warteg). Setelah selesai makan siang, kami memutuskan untuk mengunjungi Chocodot , suatu jenis cemilan baru (ga baru-baru amat sih kita aja kali yang baru denger).

Chocodot ini memadukan antara Dodol (sebagai makanan khas garut tentunya) dengan Cokelat. Entah dodolnya yang dilapisi Cokelat, atau Cokelatnya yang dilapisi Dodol. Ga penting juga sih, yang jelas ketika kita gigit sekali, rasanya benar-benar terasa nikmat sampai gigitan terakhir. Ada satu jenis Chocodot yang menurut saya aneh, si Bams kebetulan yang nemuinnya. Cokelat rasa Chili, bukan rasa manis yang kita dapatkan tapi rasa pedas yang kita rasakan ketika kita makan satu coklat ini, ga terlalu pedas sih emang tapi bisa buat yang memakannya jadi keringat dingin (itu yang saya rasakan waktu coba memakannya). Kalau menurut gw Chocodot ini mirip ama Joger yang ada di Bali, jadi Chocodot ini menampilkan variasi-variasi yang menarik dengan mengikuti perkembangan zaman (maksudnya pemakaian kata-kata untuk Cokelat tersebut. Ya bisa dibilang modern dikit lah, masa ada Cokelat rasa Anti Galau, Cokelat rasa Kasih Sayang, Cokelat Tolak Miskin, Cokelat Sesuatu Banget (kaya Syahrini aja).

Puas muter-muter di Distronya Chocodot, kami pun beranjak mengitari pusat kota. Sepanjang jalan banyak pedagang-pedagang yang menjajakan makanannya dari mulai Cimol, Cilok, Basreng, Siomay, Jagung Kraft dan beragam jajanan khas Garut lainnya yang kebanyakan memakai mecin (katanya sih kebanyakan mecin bisa jadi bego hehehe). Hujan sempat turun membuat kami memutuskan berhenti di suatu jajanan yang menawarkan minuman (semacam jus dan milk shake). 
Puas setelah mengitari pusat kota dan waktu yang sudah sore, akhirnya kami memutuskan kembali ke Wisma LEC (Mang Tatang memberi tahu kami bahwa ada kamar untuk malam ini). Kami naik angkot yang membawa kami menuju Terminal Guntur. Saya menyangka tujuan akhir dari angkot ini adalah Terminal Guntur namun ternyata tujuan akhir angkot ini bukan di Terminal Guntur sehingga setelah kami melewati terminal itu baru saya menyadari kami sudah melewatinya sehingga kami harus berjalan lebih jauh, teman-teman mempersalahkan Yamin dan Ipeh karena kebetulan mereka yang duduk didepan disamping supir angkot. (entah kebetulan atau tidak kami mengikuti kesalahan si Putri hehehe). 

Tiba diwisma LEC ternyata bukan Mang Tatang yang menyambut kami dan entah siapa karena kami tidak menanyakan namanya. Kamar yang kami sewa pada malam kedua ini lebih besar karena harganya juga sedikit lebih mahal daripada malam pertama. Ukuran kamarnya lebih luas tetapi hanya ada dua kasur, namun ada beberapa fasilitas seperti Tv dan kipas angin, tentunya dengan kamar mandi didalam dan tidak bau pula. Kamar ini disewakan dengan tarif Rp.125rb per malam. Kejadian malam hari pada malam kedua tidak jauh beda dengan malam pertama, bersanda gurau tertawa membahas apa yang bisa dibahas. Padahal sudah direncanakan mau tidur cepat, tetapi tetap saja sekitar jam1 kami baru bisa memejamkan mata.

Hari terakhir kami di Garut bukannya semangat malah tambah malas, mungkin karena kami semua kelelahan di hari sebelumnya. Rencana kami dihari terakhir di Garut adalah mengunjungi Situ Cangkuang yang ada di Leles sebelum akhirnya kami benar-benar pulang meninggalkan Garut (aahh ga mau hehehe). 
Kami baru start jam 11 meninggalkan Wisma LEC. Namun perjalanan kami selanjutnya tidak ditemani oleh Sandi karena dia mendapat kabar (ga tau ya dari siapa) bahwa dia sudah harus sampai di pamulang pada sore harinya sehingga dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Kami pun berpisah dengan Sandi, dia berjalan menuju Bis Primajasa yang akan membawanya kembali ke Lebak Bulus, sedangkan kami harus mencari Angkot No 10 yang akan membawa kami ke Alun-Alun Leles. Tarif angkot dari Terminal Guntur-Alun Alun Leles adalah Rp.4rb dan perjalanan ditempuh selama setengah jam. 
  
Sampai di Alun-Alun Leles, kami harus menaiki Delman untuk sampai ke Situs Cangkuang (jalan kaki juga bisa sih tapi dijamin langsung gempor). Setelah nego dengan penarik delmannya kami menyewa dua delman dengan tarif satu delmannya yaitu Rp.12rb. Sudah lama sekali rasanya kami semua tidak naik delman karena memang di Jakarta sudah tidak ada delman karena sudah dilarang oleh pemprov. Sekitar 15 menit kami sudah sampai di depan gerbang Situs Cangkuang. Harga tiket masuk untuk masuk Situs Cangkuang adalah Rp.4rb dengan menumpang rakit karena Situs Cangkuang ada diseberang danau. Sekitar 10 menit kami sampai di Situs Cangkuang.

Ternyata bukan hanya Candi yang ada disana, tetapi juga Rumah Adat Kampung Pulo, terdapat 6 rumah panggung beserta satu masjid yang ada ditengah, agak naik ke atas barulah Candi Cangkuang terlihat dengan Makam Mbah Dalem Arif Muhammad disampingnya, ada juga rumah tua yang berisi informasi mengenai Candi Cangkuang dan juga Rumah Adat Kampung Pulo. Puas melihat Situs Cangkuang dan tak lupa berfoto bersama, kami pun meninggalkan Situs Cangkuang dengan rakit yang sama dan untuk kembali ke Alun-Alun Leles dengan Delman, namun karena hanya ada satu delman, terpaksa kami berenam naik dengan berimpit-impitan.

Bams yang badannya besar dan Santi yang kakinya panjang membut saya dan Yamin sangat tersiksa (lebih tersiksa Kudanya deh karena harus narik 7 orang sama supir delmannya). Sampai di Alun-Alun Leles, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang disekitar Alun-Alun Leles. 
Kami menemukan rumah makan tidak terlalu besar, tetapi lumayan lengkap lah. Ada Bakso, Mie ayam, Mie Goreng, Nasi Goreng, dll. Namun karena si Ibu hanya sendiri melayani kami jadinya kami harus bersabar menunggu satu-satu. Setelah selesai makan dan tak lupa Solat, kami pun sudah siap dipinggir jalan menunggu Bis Primajasa yang akan membawa kami kembali ke Lebak Bulus. Tak sampai lama akhirnya Bis Primajasa lewat dan kami semua langsung naik kedalamnya. Kami tiba di Lebak Bulus jam 9 kurang. Dan kami pun harus berpisah pulang kerumah masing-masing. Bams dan Santi naik angkot ke Ciledug sedangkan Saya, Boy, Ipeh, dan Yamin naik angkot ke arah Ciputat.

Sungguh perjalanan yang sangat menarik buat saya pribadi karena bisa berlibur bersama teman-teman. Perencanaan yang sangat singkat dan bawa uang yang cuma seadanya, pasti menjadi hal yang tak terlupakan dalam hidup ini. Terima kasih buat Allah SWT karena tanpa kuasanya kita semua tidak akan bisa melakukan perjalanan ini (terutama saya yang walaupun sedikit sakit masih bisa ikut). Terima kasih kepada kedua orang tua kami masing-masing yang sudah mengizinkan anaknya (kecuali Ipeh yang ga bilang sama mamahnya hahaha). Terima kasih buat Bams, Yamin, Santi, Ipeh, Boy dan Sandi. Terutama Bams yang ga lelah dan henti-hentinya ngajakin gw, sampe cari-cari tau tentang Garut dari blognya si Putri, nah terima kasih juga buat si Putri karena dari pengalaman yang ditulis di blognya membuat kami tahu akan pesona Garut (pada akhirnya selama perjalanan si Putri juga yang kami bahas terus-terusan hahaha). Sekadar berbagi buat kalian yang masih muda jangan sia-siakan hidup kalian yang masih muda dengan hal-hal negatif, isi dengan hal-hal positif seperti yang kami lakukan. Jalan-jalan mengelilingi Indonesia bisa jadi solusi untuk sekadar merefresh otak atau mengisi hidup ini lebih baik, terimakasih :)






(saduran dari email yang dikirim Muh. Yamin, sedikit ada perubahan nama)